Showing posts with label Materi Kelas XII. Show all posts
Showing posts with label Materi Kelas XII. Show all posts

Thursday, September 20, 2018

MENGHITUNG KEMIRINGAN LERENG



Peta merupakan gambaran permukaan bumi pada bidang datar. Karena peta digambarkan dalam bidang datar, oleh karena itulah, peta tidak bisa memberikan gambaran tiga dimensi dari bentuk permukaan bumi. Meskipun demikian, kita dapat melihat apakah permukaan bumi tersebut landai atau curam dengan menggunakan garis kontur.

Garis kontur merupakan garis yang menghubungkan tempat-tempat yang memiliki ketinggian yang sama. Misalnya, ada sebuah tempat yang memiliki ketinggian 20 meter, maka akan dihubungkan dengan tempat lain yang memiliki ketinggian 20 meter juga, dengan menggunakan garis kontur. Garis kontur pada peta dapat menunjukkan tingkat kecuraman sebuah tempat, dilihat dari kerapatannya. Semakin rapat kontur suatu daerah, maka semakin curam/ terjal pula daerah tersebut.

Perhatikan dua gambar berikut!

1      1. Garis Kontur












2. Konversi Garis Kontur




















Berdasarkan gambar tersebut, kita dapat mengetahui bahwa daerah antara titiak A dengan titik B lebih landai dibandingkan daerah antara titik A dengan titik C. Hal itu dikarenakan daerah antara titik A dengan titik B memiliki kontur yang renggang. Dan semakin renggang sebuah kontur, maka daerahnya semakin landai.
Untuk lebih memahami penghitungan kemiringan kereng, perhatikan perubahan dari garis kontur yang dilihat dari atas menjadi bentuk muka bumi yang dilihat dari samping

Untuk mengetahi tingkat kemiringan sebuah lereng, kita dapat menggunakan kontur dan jarak peta.
Rumus dari kemiringan lereng adalah





Yang dimaksud beda tinggi adalah selisih antara ketinggian titik yang tertinggi dengan titik yang terendah dari tempat yang ingin dicari kemiringan lerengnya.
Sedangkan jarak sebenarnya merupakan jarak antara dua titik yang ingin dicari ketinggiannya pada kenyataan sebenarnya.
Secara sederhananya, beda tinggi merupakan jarak secara vertikal, sedangkan jarak sebenarnya merupakan jarak secara horizontal.

Contoh Soal

Perhatikan gambar berikut!

Tentukanlah kemiringan lereng antara titik A ke titik B, apabila diketahui jarak antara titik A dengan titik B di peta adalah 4 cm.








Jawab

Pada soal diketahui jarak di peta (Jp) A-B = 4 cm
ditanyakan kemiringan lereng

Kemiringan lereng    = (beda tinggi / jarak sebenarnya) x 100%

Beda tinggi                 = seilisih ketinggian A – B = 160 – 40 = 120 m

jarak sebenarnya belum diketahui,

Jarak sebenarnya dapat dihitung dari jarak di peta dikalikan dengan penyebut skala.
Untuk mengetahui penyebut skala langkah pertama adalah mencari kontur interval.
kontur interval (Ci) dapat diketahui dari gambar dengan mengurangi besar kontur dua garis yang berdekatan.
maka Ci = 70-40 = 30

Setelah itu, mencari skala peta dari rumus Ci
PS (penyebut skala)  = Ci x 2.000
                                     = 30 x 2.000
                                     = 60.000
Maka skala = 1: 60.000

Sehingga, jarak sebenarnya adalah
JS         = JP (jarak di peta ) x PS
            = 4 x 60.000
            = 240.000 cm
            = 2.400 m
(dijadikan satuan m karena disesuaikan dengan satuan pada beda tinggi

Sehingga
Kemiringan lereng    = (beda tinggi / jarak sebenarnya) x 100%
                                    = (120 : 2.400) x 100%
                                    = (1:20) x 100%
                                    = 5%



Read More

Wednesday, April 18, 2018

BREAKING POINT THEORY/ TEORI TITIK HENTI


Teori titik henti merupakan titik maksimal penduduk mencapai jarak terjauh dari wilayahnya.
Teori titik henti dapat diterapkan untuk menentukan lokasi yang baik.

Rumus untuk menentukan teori titik henti adalah

Jb      =  titik henti (dihitung dari penduduk yang jumlahnya lebih sedikit)
Ja-b  = jarak antara kota a dan kota b
Pa     = jumlah penduduk kota a
Pb    = jumlah penduduk kota b

Rumus dari teori titik henti pada dasarnya kebalikan dari rumus teori interaksi (teori gravitasi antara dua kota).

Contoh Soal

SOAL 1

Hitunglah dimanakah letak titik henti antara dua kota yang memilki jarak 18 km. Besar penduduk pertama adalah sebesar 10.000 dan besar penduduk kedua adalah sebesar 40.000.
Jawab
Titik henti = 18    
                          1+40.000/10.000
                      = 18
                         1+2

                      = 6 km dari kota pertama
 SOAL 2

Apabila diketahui jumlah penduduk Kota A adalah sebesar 90.000, sedangkan jumlah penduduk kota B sebesar 30.000, dan jarak antara kota A dan kota B adalah 16 km. maka lokasi titik henti dari kota A adalah….
A. 18
B. 16
C. 14
D. 12
E. 10

Jawab
Titik henti = 16    
                          1+90.000/30.000
                      = 16
                         1+3

                      = 4 km dari kota B.

Jadi, jarak titik henti dari Kota A adalah 16 – 4 = 12 km

SOAL
1. Teori titik henti pilihan ganda



Read More

Tuesday, April 17, 2018

TEORI INTERAKSI MENURUT TEORI GRAVITASI



Apabila ada wilayah yang berdekatan, maka besar Tarik menarik kedua wilayah tersebut disebut teori gravitasi. Berdasarkan teori gravitasi, besar interaksi keruangan antara dua wilayah, sebanding dengan jumlah penduduk dua wilayah tersebut, dan berbanding terbalik dengan jarak anatar dua wilayah tersebut.

Hal itu berarti bahwa semakin banyak jumlah penduduk dua kota yang berdekatan, maka besar interaksinya semakin besar. Semakin sedikit jumlah penduduk dua wilayah tersebut, maka semakin kecil pula kekuatan interaksi dua wilayah itu.

Sebaliknya, kekuatan interaksi berbanding terbalik dengan jarak. Apabila JARAK dua kota semakin BESAR, maka kekuatan interaksinya semakin KECIL. Dan apabila jarak antara dua kota semakin kecil, maka kekuatan interaksinya semakin besar.

Rumus Interaksi berdasarkan teori gravitasi adalah sebagai berikut

Keterangan :
I   : Kekuatan interaksi antara kota A dan Kota B
C   : konstanta, dalam rumus ini besar konstanta adalah 1
PA  : jumlah penduduk kota A
PB  : Jumlah penduduk Kota B
dAB : jarak antara kota A dan Kota B


Contoh Soal

SOAL 1

Apabila jumlah penduduk kota A adalah sebesar 7.200 sedangkan jumlah penduduk kota B adalah sebesar 2.000. Jarak antara Kota A dan Kota B seperti pada gambar. Maka berapakah kekuatan interaksi antara kota A dengan Kota B?

Jawab

 I = 1 x 7.200 x 2.000
(12)²
    = 100.000

Maka kekuatan interaksi nya antara Kota A dan Kota B adalah 100.000

SOAL 2
Perhatikan gambar. Manakah interaksi yang lebih kuat antara interaksi Kota A-B, dibanding dengan interaksi Kota A-C apabila jumlah penduduk A sebesar 3.000, jumlah penduduk B sebesar 2.000 dan jumlah penduduk kota adalah 1.000.

Jawab

Kita harus membandingkan kekuatan interaksi antara Kota A-B dengan kekuatan interkasi A-C.

Kekuatan interaksi A-B adalah
I = 3.000 x 2.000
          (4) ²
   = 375.000

Sedangkan kekuatan interaksi antara A-C adalah

I = 3.000 x 1.000
         (2) ²
   = 750.000

Perbandingan interaksi A-B dengan A-C adalah 375.000 : 750.000 = 1 : 2
Maka kekuatan interaksi lebih besar terjadi antara kota A dengan Kota C yang jaraknya lebih besar dibandingkan dengan interaksi kota A dengan kota B, meskipun secara jumlah penduduk lebih besar.

Dari kedua soal tersebut dapat disimpulkan bahwa perbedaan jarak antara dua kota lebih berpengarahun besar daripada besarnya jumlah penduduk dua wilayah yang saling berinteraksi.

Read More

Sunday, April 1, 2018

CARA MENENTUKAN ARAH AZIMUTH DAN ARAH BEARING



Dalam pemetaan, selain dikenal berbagai macam arah, dikenal juga jenis penentuan arah.
Hal itu berarti cara penentuan arah suatu tempat dari tempat lain.
Penentuan arah tersebut, terbagi menjadi arah aimuth dan arah bearing.

Arah Azimuth merupakan arah sebuah tempat yang diukur dari tempat lain, dengan patokan arah utara diputar searah jarum jam, dan besar sudutnya 360°. Perhatikan gambar berikut untuk memahami penentuan arah azimuth.
 
Penentuan arah azimuth
Sedangkan Arah Bearing merupakan sudut yang diukur dari arah utara ke timur atau utara ke barat, atau selatan ke timur atau selatan ke barat. Besar maksimal arah bearing adalah 90°. Perhatikan gambar berikut untuk lebih memahami cara penentuan arah bearing.
Penentuan Arah Bearing


Contoh soal yang berkaitan dengan arah azimut dan arah bearing

Perhatikan gambar berikut. Tentukan arah azimuth dan bearing Kota A dari Kota B!


Jawab
Arah Azimut

Dilihat dari gambar tersebut, dapat diketahui bahwa besar sudut dengan menggunakan arah azimuth adalah 125°.

Arah Bearing

Berdasarkan gambar tersebut, dapat diketahui bahwa besar sudut bearing nya adalah S 50° B

Kerjakan latihan soal berikut supaya dapat lebih memahami penentuan arah azimuth dan arah bearing.

Apabila diketahui sebuah tempat rumah makan memiliki kedudukan tepat di sebelah barat kantor pos, tentukanlah besar sudut azimuth dan sudut bearingnya.

Read More

Sunday, January 14, 2018

GEOGRAFI KOTA


Pengertian kota menurut UU No. 22 Tahun 1999 adalah kawasan yang mempunyai kegiatan non agraris dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.

Dalam aplikasinya, terdapat beberapa istilah kota, antara lain:
a.      Township merupakan istilah untuk kota kecamatan
b.      Town merupakan istilah untuk kota kabupaten
c.       City merupakan istilah untuk pusat kota

Sebuah kota, biasanya memiliki ciri-ciri fisik dan ciri sosial yang menjadikan sebuah kota berbeda dengan desa. Ciri-ciri kota tersebut adalah:

1.     Ciri-ciri Fisik Kota yaitu :
a.       terdapat penjara
b.      terdapat tempat ibadah
c.       terdapat gedung-gedung pemerintah
d.      terdapat wilayah untuk pasar dan pertokoan
e.       terdapat wilayah untuk parkir
f.        terdapat wilayah untuk rekreasi dan olahraga

2.     Ciri-ciri Sosial Kota adalah :
a.  Masyarakat kota heterogen (beragam jenisnya, dari pekerjaan, sampai ke jenis suku)
b.    Masyarakat kota memiliki sifat Individualis dan materialis
c.    Mata pencaharian masyarakat kota bersifat non-agraris (di luar pertanian)
d.    Corak kehidupan masyarakat kota bersifat gesselschaft (patembayan)
e.     Pandangan hidup masyarakat kota lebih rasional
f.  Terdapat kesenjangan sosial yang mencolok antara masyarakat kaya dengan miskin
g.  Terdapat segregasi keruangan (pemisahan yang menimbulkan kelompok atau kompleks)
h.    Penerapan norma agama tidak begitu ketat
i.      Kontrol sosial masyarakat kota didasarkan pada hukum formal

JENIS KOTA
Dalam perkembangannya, terdapat beberapa jenis kota.
Ada beberapa pendapat mengenai jenis kota.
Berdasarkan jumlah penduduknya (menurut national urban development strategic) jenis kota dibedakan menjadi kota kecamatan, kota kecil, kota sedang, dan kota besar.
Sedangkan jenis kota menurut karakteristik dinamika fungsional menurut Tylor, kota dibedakan menjadi Infantile, Juvenile, dan Senile.

Jenis kota berdasarkan jumlah penduduknya (menurut national urban development strategic)
Jenis Kota
Perkiraan jumlah penduduk
Kecamatan
3.000 – 20.000
Kecil
20.000 – 200.000
Sedang
200.000 – 500.000
Besar
500.000 – 1.000.000
Metropolitan
Megapolitan
1.000.000 – 5.000.000
>5.000.000

Jenis kota menurut karakteristik dinamika fungsional menurut Tylor, kota dibedakan menjadi:
1.     Infantil (the Infantil stage)- Tahap Awal
Kota pada tahap Infantil memiliki ciri-ciri :
a.      Belum terlihat  adanya pembagian yang jelas daerah-daerah pemukiman  dengan daerah perdagangan,
b.      Belum ada perbedaan kawasan pemukiman kelas atas dan kelas bawah,
c.       Susunan bangunan belum teratur.
2.     Juvenil (the Juvenil stage)- Tahap Muda
Kota pada tahap Juvenil memiliki ciri-ciri:
a. Sudah mulai adanya proses-proses pengelompokan pertokoan pada bagian bagian kota tertentu
b.   kawasan pemukiman kelas menengah keatas sudah muncul dipinggiran kota dan
c.     munculnya kawasan pabrik.
3.     Senile (the Senile stage)- Tahap Tua
Kota pada tahap ini ditandai ciri-ciri berikut:
a.    Pertumbuhan di kota Senil sudah yang terhenti (cessation of growth),
b.    kemunduran dari beberapa distrik
c. kesejahteraan penduduk menunjukan  gejala-gejala penurunan (di daerah industri)


SEJARAH PERKEMBANGAN KOTA
Kota yang berkembang sekarang, memiliki latar belakang yang beragam. Ada kota yang dulunya merupakan pusat perkebunan, pertambanga, administrasi, kebudayaan, atau pusat perdagangan.
1.      Pertumbuhan kota berasal dari pusat perkebunan
Contoh kota-kota yang berkembang dari pusat perkebunan adalah : Bogor, Pematangsiantar, Jambi, Bengkulu, Tanjungkarang dan Palembang.
2.      Pertumbuhan kota berasal dari pusat pertambangan
Contohnya kota-kota yang berkembang dari pusat pertambangan adalah: Dumai, Plaju, Rejang Lebong, Tarakan, Ombilin, Sawah Lunto, Pangkal Pinang, Balikpapan, Martapura, Cepu, Wonokromo, Tembagapura, Tanjung Enim, Bontang, Arun.
3.      Pertumbuhan kota berasal dari pusat administrasi.
Kota yang berkembang dari pusat administrasi merupakan pusat-pusat kerajaan. Contoh Kota yang berasal dari pusat administrasi adalah: Jakarta, Demak, Cirebon, Surakarta, Yogyakarta, Gowa, Banjarmasin, NAD.
4.      Pertumbuhan kota berasal  dari kebudayaan
Contohnya kota yang berkembang dari pusat kebudayaan adalah Solo, Yogyakarta, Denpasar
5.      Pertumbuhan kota berasal dari pusat perdagangan
Kota yang bersal dari pusat perdagangan pada umumnya menepati daerah pantai. Contoh kota yang berasal dari pusat perdagangan adalah Makasar, Banten, Jakarta, Semarang, Surabaya.

PERKEMBANGAN KOTA
Faktor yang mempengaruhi perkembangan kota adalah faktor alam, faktor kependudukan, dan faktor budaya.
1.      Faktor Alam
Relatif statis karena segala bentuk perubahan yang terjadi berlangsung dalam waktu yang relatif lama
2.      Faktor Kependudukan
Sangat dinamis terutama apabila ditinjau dari kuantitasnya
Pertambahan penduduk alami
Urbanisasi
3.      Faktor Budaya
yaitu tingkat kepandaian manusia dalam mengelola lingkungan kehidupannya (tingkat penguasaan teknologi)

TAHAP PERKEMBANGAN KOTA  (kualitas perkembangan), Menurut Lewis Munford terdapat enam tahap, yaitu tahap eopolis, tahap polis, tahap metropolis, tahap megapolis, tahap tiranopolis, dan tahap nekropolis. Penjelasan tahap perkembangan kota tersebut adalah :
1.     Tahap Eopolis
Tahap perkembangan kota tahap eopolis tercermin adanya perkampungan yang makin maju dan mengarah ke kota.
2.     Tahap Polis
Tahap perkembangan kota tahap polis tercermin dari keadaan kota yang masih berorientasi agraris meskipun muncul beberapa kegiatan industri
3.     Tahap Metroplis
Tahap perkembangan kota tahap metropolis terlihat apabila sebuah kota yang telah berorientasi industri
4.     Tahap Megapolis
Tahap perkembangan kota tahap megapolis ditandai oleh perubahan perilaku manusia hanya berorientasi pada materi
5.     Tahap Tiranopolis
Tahap perkembangan kota tahap tiranopolis dicirikan dengan indikator budaya dilihat pada sesuatu yang nampak saja, misalnya kekayaan. Pada tahap ini, terjadi ketidakacuhan mengenai aspek kehidupan. Selain itu, kondisi perdagangan mulai menunjukkan adanya penurunan. Tingkat kemacetan lalu lintas dan kriminalitas sangat tinggi.
6.     Tahap Nekropolis
Tahap perkembangan kota tahap nekroplolis dicirikan dengan sebuah kota yang sudah menuju kehancuran. Kota mati (the city of dead). Hal ini disebabkan adanya peperangan, kelaparan, atau wabah yang melanda kota tersebut.

TEMPAT SENTRAL

Menurut Christaller, kota sentral merupakan pusat bagi daerah sekitarnya yang menjadi penghubung perdagangan dengan wilayah lain. Disebut sebagai tempats entral dikarenakan tempat tersebut tidaklah semata-mata hanya bergantung kepada aspek permukiman penduduk.
Penggambaran tempat sentral yaitu dengan bentuk heksagonal atau bentuk segi enam.
Daerah yang masuk dalam segienam ini merupakan wilayah yang penduduknya terlayani oleh tempat yang sentral. Daerah yang mendaptkan pengaruh dari tempats entral disebut sebagai daerah komplementer.
Tempat sentral terbagai menjadi tiga macam hirarki, yaitu hirarki 3 (K=3), hirarki 4 (K=4), dan hirarki 7 (K=7).

1.     HIRARKI 3
Pada Hirarki 3, pusat pelayanan berupa pasar. Pasar tersebut selalu menyediakan kebutuhan bagi daerah sekitarnya, sering disebut kasus pasar optimal.  Selain mempengaruhi wilayahnya sendiri, wilayah ini juga mempengaruhi sepertiga bagian dari masing-masing wilayah tetangganya.

Hirarki 3 disebut juga sebagai asas pasar. Ini berarti bahwa lokasi tempat-tempat sentral harus harus sesedikit mungkin dan semua daerah harus dilengkapi dengan barang-barang yang diperlukan.

2.     HIRARKI 4
Wilayah yang termasuk ke dalam hirarki 4 dan daerah sekitarnya yang terpengaruh memberikan kemungkinan jalur lalu lintas yang paling efisien. Oleh karena itu, Tempat sentral hirarki 4 disebut pula situasi lalu lintas yang optimum. Situasi lalu lintas yang optimum pada hirarki 4 memiliki pengaruh setengah bagian di masing-masing wilayah tetangganya.
Struktur ini disebut Christaller sebagai asas pengangkutan. Menurut asas ini, penyebaran tempat sentral yang paling menguntungkan yaitu terletak pada jalan yang menghubungkan dua kota yang sebbaiknya berjarak pendek dan lurus.

3.      HIRARKI 7
Wilayah pada hirarki 7 ini disebut sebagai situasi administratif yang optimum. Situasi administratif tersebut dapat berupa kota pusat pemerintahan.

Selain mempengaruhi wilayahnya sendiri, juga mempengaruhi seluruh bagian (satu bagian) masing-masing wilayah tetangganya.  Pengaruh tempat yang sentral dapat diukur berdasarkan hirarki tertentu, dan bergantung pada luasan heksagonal yang dilingkupinya.

Menurut Christaller, daerah ini sesuai dengan asas pemerintahan yaitu asas yang lebih ditekankan pada penyatuan dan perlindungan kelompok masyarakat yang terpisah dari ancaman musuh.

Tempat sentral ideal menurut asas pemerintahan adalah
a.       kota besar yang berada di tengah-tengah kota
b.      dikelilingi oleh kota satelit
c.       tak berpenghuni di pinggirnya



Read More