Showing posts with label cerita murid. Show all posts
Showing posts with label cerita murid. Show all posts

Tuesday, May 22, 2018

DOUBLE DUO



“Ya Muqollibal qulub, tsabbit qolbi ‘ala dinik”
“Wahai Dzat yang membolak balikkan hati, tetapkan hati saya di atas agamaMu.”

Itu adalah salah satu doa yang dibaca oleh Rosul untuk meminta diteguhkan dalam agama. Tuntunan akan adanya doa tersebut, tidak terlepas dari sifat hati manusia yang mudah berubah. Hari ini senang, beberapa menit kemudian sedih. Sekarang cinta, besok bisa saja berubah. Sekarang benci, besok berubah sangat cinta. Kemarin merasa rendah diri, besok bisa menjadi sangat percaya diri. Begitulah, hati manusia memang tidak stabil.

Ngomong-ngomong tentang perasaan rendah diri, pernahkah Anda merasa rendah diri? Jika iya, seberapa sering? Apakah sesering saya ketika masa awal menjadi guru? Apakah sesering rendah diri saya ketika merasa rekan kerja saya jauh lebih hebat? Atau apakah sesering rendah diri saya karena merasa tidak memiliki cukup pengalaman untuk berdiri di depan kelas? Apakah sesering saya ketika merasa bekal yang saya miliki sangat tidak cukup untuk menemani murid SMA meraih cita-citanya? Iya, di awal pengabdian saya menjadi guru SMA Islam Al Azhar 14, saya sering kali merasa rendah diri. Sering. Bahkan sangat sering.

Salah satu momentum rendah diri pada awal saya mengajar adalah ketika bertemu dengan murid yang secara fisik jauh lebih berwibawa daripada saya. Melihat murid tersebut berjalan di lorong sekolah, sifat rendah diri memunculkan sebuah kekhawatiran. Khawatir jika saya kesusahan bekerjasama dengan murid tersebut. “Jangan-jangan, di pembelajaran yang akan kujalani dengannya, murid tersebut akan menjadi murid yang trouble maker?” Tanya saya dalam hati. Ah, ini adalah sebuah wujud kekhawatiran akibat dari rendah diri yang seharusnya tidak perlu.

Berhati-hatilah dengan apa yang kita fikirkan, karena bisa saja itu menjadi sebuah kenyataan.

Setelah pelaksanaan MOM (Masa Orientasi Murid) berlakulah jam pelajaran normal. Murid ini mulai berulah. Teman-temannya sudah di dalam kelas dan siap mengikuti pembelajaran tapi dia belum juga masuk ke dalam kelas. Saya tunggu beberapa menit, namun murid ini tidak kunjung terlihat.

Akhirnya saya putuskan untuk memulai pembelajaran meskipun tanpa kehadirannya. Beberapa menit kemudian, terdengar suara salam dan langkah kaki. Ah benar saja, dia telat lebih dari lima belas menit. Dia mengaku baru selesai dari kamar mandi. Saat itu saya bingung harus berbuat apa. Mengijinkan begitu saja dia masuk dan mengikuti pembelajaran bersama teman-teman yang lain, atau memberikan dia konsekuensi atas keterlambatannya kemudian mengijinkan masuk ke dalam kelas, atau tidak mengijinkan sama sekali untuk mengikuti pembelajaran saya? Bingung, khawatir, dan rendah diri bercampur menjadi satu. Hingga akhirnya, saya meminta dia untuk membaca istigfar seratus kali dengan suara keras di depan kelas. Dia pun melakukannya. Meski dengan terpaksa. 

Saya mencoba mengabaikan kepekaan rasa terhadapnya. Saya abaikan pemahaman saya bahwa dia keberatan untuk beristigfar. Saya menutup rasa rendah diri saya dengan sifat sok tegas. 

Cerita murid yang membaca istigfar bisa dibaca di buku kumpulan cerpen karya murid angkatan pertama. Di kumpulan cerpen tersebut, dia menuliskan betapa jengkelnya dia terhadap saya kala itu. Meskipun kemudian, kita sama-sama belajar menemukan pola kerjasama yang baik. Ketika saya mulai bisa menguasai rasa rendah diri, saya merasa dia bukanlah murid yang susah diajak kerja sama. Bahkan sebaliknya, dia adalah murid yang mudah untuk diajak kerja sama.

Setelah rasa rendah diri berangsur-angsur berubah menjadi rasa kepercayaan, rasa rendah diri itu menyisakan sebuah perasaan “peka” terhadap orang-orang yang sedang rendah diri. Kali ini, rasa rendah diri yang saya rasakan adalah rasa rendah diri yang terjadi pada murid saya yang lain (berbeda dengan murid yang saya ceritakan di atas).

Murid saya ini sebenarnya memiliki banyak potensi. Dia adalah murid yang baik, humble, murah senyum, ringan tangan, dan secara pemikiran juga sudah mengarah kepada pemikiran yang cukup dewasa. Sampai sekarang, ketika saya bertemu dengan anak ini, terpancar ykebahagiaan ang membuat orang lain ikut merasakan kebahagiaan itu. Sayangnya, dua tahun yang lalu, ketika dia menyalonkan diri sebagai ketua osis SMA Islam Al Azhar 14, dia belum benar-benar menyadari bahwa dia memiliki banyak potensi yang membuat dia berharga. Hal itu menyebabkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dari panelis pada kegiatan kampanye dialogis calon ketua osis, dijawab dengan penuh keraguan dan kerendah dirian. Padahal menurutku, jawaban dialah jawaban yang paling bagus diantara calon yang lain. Akan tetapi, karena dia menjawab dengan penuh keraguan dan kerendah dirian, menjadikan jawabannya terlihat biasa-biasa saja. Bagaimana orang lain bisa menjadi tertarik dan percaya pada dirinya? Percayai diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum meminta orang lain percaya terhadap kita. Benar kan?

Setelah saya belajar mengendalikan rasa rendah diri dan berangsur-angsur muncul rasa percaya diri, begitu juga murid ini. Dia terlihat mampu belajar bagaimana menempatkan rasa percaya diri dengan tepat. Semoga penempatan rasa kepercayaan diri itu tidak berlebihan atau bahkan melebihi batas. Karena saya melihat, saat acara akhirussanah, murid ini sudah bersiap merapikan diri ketika pembawa acara akan membacakan nominasi murid yang mendapatkan predikat lulusan terbaik di bidang non akademik jurusan IPS. Sebelum dia tahu bahwa dialah yang mendapatkan penghargaan tersebut, dia sudah bersiap maju ke atas panggung. Merapikan baju dan mengambil posisi bersiap untuk maju. Untunglah, memang dia yang mendapatkan nominasi tersebut. Terbayang bagaimana jika ternyata bukan dia? Senyumin aja. Hehe.

Begitulah cerita kali ini tentang dua murid yang memberikan pelajaran kepada saya tentang mengelola rendah diri. Mereka ini adalah murid yang tersenyum ketika saya bilang “wah.. ada gempa… ada gempaaaa…”. 
Mereka ini adalah double duo yang suatu saat saya harap dapat memanggil dengan sebutan double single. :D (saya wagu).

Nah, sudah tahu siapa murid-murid yang saya maksud kan?
Jika masih belum tahu siapa mereka, silakan klik berikut.




Read More

Monday, May 14, 2018

SPONS KERING



Ada banyak macam kecerdasan yang diberikan Allah kepada manusia. Kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan naturalis, kecerdasan musical, kecerdasan logika matematika, kecerdasan interpersonal, kecerdasan kinestetik jasmani, dan kecerdasan linguistik. Ada orang yang sangat cerdas di salah satu macam kecerdasan, dan sangat rendah di kecerdasan yang lain. Akan tetapi, ada pula yang memiliki keseimbangan kecerdasan di semua aspek, meskipun tetap saja ada kecerdasan yang lebih menonjol di salah satu. Akan tetapi perbedaannya yang tinggi dan rendah tidak terlalu timpang. Contohnya adalah dua murid ini.

Keduanya memiliki kemampuan memahami suatu hal baru dengan mudah. Mereka seperti spon kering yang dengan cepat menyerap air yang berada di sekitarnya. Namun kemampuan yang tinggi itu tidak lantas membuat dia bermalas-malasan belajar. Mereka tetap berlari mengejar cita-cita mereka. Sebut saja inisial murid bunga mawar dan bunga melati.

Si mawar merupakan satu-satunya murid yang menelpon untuk memastikan tugas geografi. Dia adalah murid yang masuk SMA Islam Al Azhar karena dia merasa di Al Azhar dia tidak akan dikucilkan oleh teman-temannya jika tidak mau memberikan jawaban saat tes berlangsung. Ya, sistem di sekolah Al Azhar menjunjung kejujuran saat tes. Bagi murid yang terdapati menyontek atau mendapatkan contekan, maka dia akan mendapatkan sangsi yang cukup berat. Hal itu membuat tingkat contek mencontek murid selama tes berlangsung tergolong rendah.

Bagaimana dengan melati? Meskipun dia merupakan murid yang memiliki kemampuan cukup tinggi dalam menyerap ilmu pelajaran, nyatanya dia adalah murid yang selalu berusaha memperhatikan saat guru memberikan penjelasan di dalam kelas. Dia juga merupakan murid yang aktif meminta tambahan pelajaran kepada bapak ibu guru, yang sekiranya dia rasa masih kurang memahami. Dia memang anak cerdas dan rajin. Bukan hanya itu, dia juga anak yang kreatif. Nyatanya, dia merupakan murid yang suka membuat gambar anime lewat goresan tangan, bahkan beberapa kali karyanya terjual lewat online. Maka tak heran, jika dia berhasil memenangkan perlombaan FLS2N cabang desain grafis tingkat Kota Semarang.

Salah satu kesamaan dari keduanya adalah sama-sama terlihat pendiam. Mereka menunjukkan aura kecerdasan dan kerendah hatian dengan diam. Akan tetapi, itu hanya “kelihatan”nya saja. Jika kita sudah mengenal mereka, maka kita akan tahu bahwa mereka bukanlah murid pendiam seperti yang terlihat. Mawar yang “alay” dan melati yang usil. Begitu sekiranya kesimpulan tiga tahun selama saya mengenal mereka. Mungkin itu bisa berubah. Mungkin.

Doa yang sama buat mereka adalah semoga mereka bahagia dan tetap menjadi kelinci yang terus berlari dan tak terlena dengan kecerdasan mereka. Dan tentunya, sepintar apapun kita, ingatlah ilmu padi yang semakin berisi akan semakin menunduk. Saya akan menunggu mereka datang ke SMA Islam Al Azhar 14  dengan ribuan cerita perkuliahan yang sangat menarik untuk didengar. Akankah mereka akan tetap “alay” dan usil? Hmmm.. wait and see.

Pengen tahu siapa mawar dan siapa yang melati?
klik mawar..
klik melati..

Read More

Friday, May 11, 2018

Terimakasih dan Selamat



Bersyukurlah mereka yang memiliki orang tua yang tidak hanya melihat perkembangan anak dari nilai akademis saja, tetapi juga melihat perkembangan dari hal kecil lain di luar akademik. Bersyukur pula lah, sekolah jika bisa bermitra dengan orang tua yang seperti itu. Orang tua yang turut mendukung program sekolah, serta yang berterima kasih kepada sekolah atas program-program yang dilaksanakan.

“Pada intinya, saya berterimakasih kepada Al Azhar. Dulu anak saya kalau kita dekati saat dia sedang menyanyi sedikitsaja, dia langsung diam. Sekarang, dia malah sudah berani tampil bernyanyi di depan umum.” Ungkap orang tua murid kepada saya, saat saya berkunjung ke rumah murid untuk keperluan home visit.

Hati saya hangat ketika mendengar kalimat yang terucap dari orang tua murid tersebut. Sebagai seorang guru yang baru mengajar setahun, dan di tahun ke dua diamanahi sebagai wali kelas, saya merasa sangat bersyukur dipertemukan orang tua yang tidak hanya menuntut ini itu kepada sekolah, namun juga mengucapkan terima kasihnya kepada sekolah atas peningkatan anaknya dalam kepercayaan diri. Menyenangkan bukan?

Jika orang tuanya saja sebaik itu, kira-kira bagaimana dengan anaknya? Anaknya, alias murid yang sedang kuceritakan kepada kalian ini, juga memiliki kebaikan hati yang tak jauh dari orang tuanya. Dia adalah murid yang tidak hanya sekedar menghormati gurunya, tetapi menyayangi dengan tulus. Bukanlah tipe seorang anak yang hormat terhadap guru jika di depan, dan ternyata menggunjing di belakang. Bagaimana sayabisa menyimpulkan demikian? Karena murid inilah yang melakukan deep conversation malam hari dan akhirnya malah menangis sedih karena merasa tidak terima jika ada yang menghina gurunya. Dia merasa bahwa bapak ibu guru yang mengajarnya, adalah bapak ibu guru yang tulus mendedikasikan hidupnya untuk kebaikan muridnya. “Aku nggak tahu kenapa aku bisa sayang sama guru-guru, Bu” kurang lebih begitu kalimat yang dikirimkan ke saya melalui pesan cepat. Sebenarnya, saat membacanya, hati saya nya pun menghangat. Sama seperti ketika orang tuanya mengucapkan terimakasih atas perubahan pada diri anaknya. Akan tetapi, suasana haru itu berubah saat dia mengirimkan fotonya yang sedang menangis. Mungkin dia melakukan itu biar saya percaya. Padahal tanpa itupun, saya juga sudah percaya kok. Ada beda yang jelas, murid-murid yang tulus menyayangi, dengan murid-murid yang hanya sebatas pencitraan saja. Interaksi guru dan murid di dalam pendidikan, sejatinya bukan hanya interkasi transfer ilmu pengetahuan saja, akan tetapi interaksi tersebut adalah interaksi batin yang berlangsung tidak hanya satu atau dua hari, namun berlangsung cukup lama. Dan mana mungkin, dalam waktu yang lama itu, interaksi batin tidak bisa mendeteksi antara yang tulus dengan yang modus?

Jika di awal saya mengenal dia, orang tuanya berterimakasih kepada Al Azhar, maka hari ini,ketika dalam beberapa jam lagi akhirussanah berlangsung, maka ijinkan saya mewakili Al Azhar dan segenap bapak ibu guru beserta karyawan Al Azhar, mengucapkan terimakasih kepada orang tua dan kepada murid-murid, termasuk murid ini. Terimakasih atas kepercayaannya telah memasukkan putrinya ke sekolahan yang bapak ibu gurunya tak banyak memiliki pengalaman. Terimakasih bersedia bertahan di Al Azhar untuk belajar bersama menjadi pribadi yang lebih baik. Terimakasih atas balasan yang diberikan atas kasih sayang kami (bapak ibu guru) kepada segenap murid beserta orang tua. Selamat atas prestasi yang diraih. Semoga prestasi yang diraih bisa diikuti dengan prestasi-prestasi yang lain. Akhirnya, kalimat terakir yang bisa terucap adalah “kami bangga! makasih!”


Semarang, 12 Mei 2018
Vina House, tempat akhirussanah SMA Islam Al Azhar 14 digelar.
Dia adalah…… (klik aja)


Read More

DON’T JUDGE THE BOOK BY IT'S COVER



Don’t Judge The Book By It's Cover. Tentu kita sering mendengar kalimat tersebut kan? Seringkali, kalimat ajakan muncul karena adanya kondisi yang diharapkan menuju ke arah ajakan. Dan kalimat larangan muncul karena kondisi yang seringkali dilakukan oleh kebanyakan orang, merupakan sebuah hal yang seharusnya dihindari. Salah satu contohnya yaitu perilaku menyimpulkan dengan hanya mengamati penampilan luar saja. Padahal penampilan bisa saja menipu. Penampilan acuh tak acuh, rupanya menyimak dengan seksama. Penampilan urakan, rupanya orang alim. Penampilan menyebalkan, rupanya sangat perhatian. Penampilan tak tahu apa-apa, padahal tahu banyak. Dan semua itu berlaku sebaliknya.

Perbedaan antara yang ditampilkan dengan yang sebenarnya, bisa kita lihat di diri murid yang satu ini.  Seorang murid yang menempuh seluruh pendidikan SD, SMP, dan SMA nya di al azhar 14 di bawah naungan yayasan BIMATAMA. Terkadang dia menunjukkan sikap sok cueknya, padahal sebenarnya dia tidak seperti itu. Terkadang dia menampilkan sikap acuh tak acuh, padahal sebenarnya dia tidak begitu.

Seperti kejadian di suatu pagi, ketika saya menjadi guru piket, dia datang ke sekolah dengan wajah sok coolnya pura-pura cuek saja. Bahkan ketika saya mengucapkan salam, dia tak menjawab dengan lantang. Bahkan terkesan jika dia pura-pura tidak mendengar. Kemudian, saya pun mengucapkan salam kembali. Dia tetap saja diam. Saya mengucapkan salam kembali untuk ketiga kalinya. Murid tersebut tetap saja pura-pura tidak mendengar. Setelah ucapan salam ketiga saya itu, tiba-tiba murid tersebut tidak sengaja terjatuh. Sontak, kita berdua tertawa. Meskipun tertawa kita memilki makna yang berbeda-beda. Dia tertawa malu, saya tertawa bercanda.

Murid ini juga merupakan murid yang ketika ditanya oleh pengawas YPI, dia menjawab dengan lantang, “Mujahid!”. Jika kalian disana saat dia mengatakannya, tentu akan ikut tersenyum dan tepuk tangan. Karena mungkin, jika kitatak mengenalnya dekat, melihat dari penampilannya, tak mencerminkan bahwa dia merupakan seorang anak yang bercita-cita mujahid.

Sayangnya, di akhir masa sekolahnya, dia harus lebih bekerja keras karena dia memilih jurusan perkuliahan yang berbeda dengan jurusan di SMA. Itu semua karena ketidak pahaman dia bahwa jurusan yang diinginkan, bukanlah jurusan IPA, akan tetapi jurusan IPS. Semoga kerja kerasnya dia, dirahmati sama Allah sehingga dia bisa masuk jurusan yang diinginkan. Bukankah selama ini dia sudah bisa membuktikan bahwa meskipun dia anak IPA, dia bisa mendapatkan kejuaraan di jurusan IPS? Don’t judge the book from the cover. Covernya boleh saja anak IPA. Tapi dalamnya, menguasai pelajaran IPS.

Nah, kalian tentu sudah mengerti murid yang saya maksud kan ya?

Yes. Dia adalaaaaahhhhhhhhhh…. “klik disini”

Catatan tambahan:
Meskipun kita tidak men”judge”sesuatu/ seseorangdari cover, tapi memperbaiki penampilan juga tidak ada salahnya. Malah lebih baik. Iya kan?


Read More

Wednesday, May 2, 2018

Terus Bergerak Ke Arah Yang Lebih Baik



Tiada sesuatu yang lebih berharga kecuali keimanan yang terus melekat dalam diri. Keimanan yang terus meningkat dari hari ke hari merupakan sebuah kenikmatan yang luar biasa. Semoga kita diberikan oleh Allah kenikmatan seperti itu. Semoga pada saat kamu membaca tulisan seorang guru yang menganggapmu tidak hanya sebagai anak didiknya, tapi juga sebagai teman ini,kamu dalam keadaan baik dan berbahagia.

“kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda”

Pernah dengar jargon kalimat tersebut kan? Beberapa orang merasa bahwa kesan pertama dapat menentukan bagaimana hubungan manusia selanjutnya. Namun itu tidak bisa sepenuhnya benar karena kesan pertama antara kita, bukanlah kesan pertama yang baik.

Salah satu memori yang masih melekat di ingatan ibu tentang angkatan pertama adalah perihal seorang murid dengan wajah jutek nya bersalaman pamit dari ruang lomba menggambar. Perlombaan menggambar itu dilaksanakan dalam rangka peringatan HUT RI. Sebenarnya, saya faham dan mengerti alasan di balik sifat juteknya. Dia kecewa dengan permintaannya yang kutolak dengan keras. Ketegasan yang baru kuraba seberapa besar porsinya itulah yang membuat kesan awal saya dengannya kurang begitu menyenangkan.

Kamu tahu murid yang ibu maksud itu siapa? Ya, murid itu adalah kamu. Kenangan itu masihkah kamu ingat? Ataukah sudah terhapus oleh kenangan yang lebih baik diantara kita?

Beruntunglah, ada kesempatan-kesempatan selanjutnya yang Allah berikan ke kita untuk menciptakan kenangan-kenangan yang baik. Kita bisa belajar dari pengalaman. Kita mencoba interakasi yang lebih baik. Hingga akhirnya ibu bersyukur diberikan kesempatan menjadi wali kelasmu yang mencoba melihat mu dengan lebih dekat. Memahami pola interaksimu dengan keluarga dan teman-temanmu. Mempelajari bagaimana harus bersikap, termasuk bersikap menolak sesuatu yang ibu rasa memang lebih baik tidak ibu setujui. Begitupun dirimu, kamu mulai menerima dan mencoba memahami kelebihan dan kekurangan ibu. Apa yang ibu suka dan apa yang kurang ibu suka. Dan interaksi kita, benar-benar membuktikan bahwa “kesan pertama” bukanlah satu-satunya penentu sebuah hubungan antara dua orang. Kamu setujukan? Atau kamu punya argument lain?

Sekarang, ketika USBN dan UNBK telah selesai, tiba-tiba ibu teringat akan anak yang masuk ke ruang guru dan meminta tambahan geografi sepulang sekolah. Semoga ilmu geografi yang telah kita kuasai, bisa bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Hingga akhirnya kita menjadi manusia yang berbudi pekerti yang baik dan bijak. Karena sejatinya, bukan seberapa banyak ilmu kita, namun seberapa bermanfaat kita dengan ilmu yang kita miliki.

Oia, sebenarnya hasil USBN dan UNBK sudah diketahui oleh bapak ibu guru, namun ibu belum bisa memberitahukannya kepadamu. Tunggulah sampai sekolahan mengumumkannya secara resmi. Ibu berterimakasih karena telah bersedia berjuang bersama. Menghabiskan senja-senja sepulang sekolah bersama-sama dengan anak-anak yang lain. Perjuangan yang pernah kita lakukan itu, semoga bisa kamu pertahankan. Bahkan perjuangan itu kamu tingkatkan. Semoga dengan itu kamu memperoleh segala cita-citamu. Termasuk, perguruan tinggi dan jurusan yang kamu idamkan. Sukses buat besok tanggal 8 Mei 2018 SBMPTN nya ya.

Terakhir, sebagai seorang yang pernah membersamai belajar selama tiga tahun, ibu harap kamu bisa terus istikomah dalam kebaikan. Teruslah menyebarkan kebaikan-kebaiakan dengan cara yang cantik. Semoga sukses buat model muslimahnya. Ibu bangga menjadi teman belajarmu selama ini. Makasih telah memilih Al Azhar. Terimakasih telah bersedia belajar bersama mencari pola hubungan antara murid dan guru yang baik dan menyenangkan. Salam.
Surat ini teruntuk, ......... (silakan klik) haha
Read More

Saturday, April 28, 2018

SANG MAESTRO "MOOD BOOSTER"


Inspirasi 1.

Dari nama sekolahnya, kita dapat mengetahui bahwa SMA Islam Al Azhar 14 merupakan sekolah yang berbasis keislaman. Dengan basis keislaman itu, sekolah mencoba menumbuh kembangkan penghayatan dan amalan-amalan keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian, rupanya tetap saja saya kagum kepada anak yang memiliki niat masuk sekolahan ini untuk memperbaiki pengetahuan agama dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan. Keterkejutanku bermula saat kegiatan masa orientasi sekolah, salah satu murid yang berpakaian seragam SMP pendek, kaos lengan, dan jilbab kecil, setelah maju ke depan menyanyikan lagu “all of  me”, dia menyampaikan bahwa motivasi masuk ke SMA yang sekarang adalah karena ingin belajar islam.

Hari demi hari, bapak ibu guru, sebagai rekan kerja saya, semakin dibuat berdecak kagum karena dialah murid yang setelah jam pelajaran selesai, seringkali maju ke depan dan menawarkan diri untuk membantu membawakan barang bapak ibu guru ke ruang guru. Saya sendiri, ketika mendapatkan tawaran bantuan darinya, terkadang saya terima, tapi tidak jarang pula saya tolak. Saya terima ketika saya memang merasa butuh bantuan. Dan saya tolak ketika saya merasa saya bisa membawanya sendiri. Atau bahkan, saya tolak dia membawakan barang, tapi saya tidak menolak ditemani berjalan untuk kembali ke ruang guru. Hal ini mungkin bisa menjadi hal yang biasa saja di sekolah negeri. Namun ini bukanlah hal yang biasa di sekolah swasta seperti sekolah yang sedang menjadi tempatku mengabdi. Sekolah yang rata-rata orang tua murid berasal dari keluarga yang tercukupi kebutuhan hidupnya.

Tahun pertama, dia terlihat sangat manis dan baik hati. Tapi itu mulai berubah ketika tahun kedua. Dia mulai menunjukkan sikap-sikap “aneh”nya. Mulai bercanda dengan hal-hal yang aneh. Kenapa saya sebut “aneh”? karena dia mencoba untuk bercanda namun bercandanya bukanlah hal yang lucu untuk orang lain. Sebagai contohnya adalah saat jam istirahat dia masuk ke ruang guru, kemudian dia keluar dengan  menyalakan lampu dan tiba-tiba lari begitu saja. Mungkin maksudnya dia pengen membuat bapak ibu guru yang di ruang guru tertawa, namun itu malah terkesan dia kurang sopan. Contoh lain, saat pelajaran yang perlu suasana kondusif, dia malah gaduh dalam jangka waktu yang lama. Akhirnya? Bukan membuat orang lain tertawa, dia malah membuat orang lain marah, sekaligus dimarahi oleh guru yang sedang mengajar. Begitulah, niat baik saja tidak cukup, harus diikuti dengan tindakan yang baik dan tepat.

Di tahun ketiga, ke”aneh”annya makin menjadi. Namun di titik ini, rupanya dia sudah banyak belajar kapan harus memunculkan ke”aneh”annya, dan kapan dia harus menjadi manusia yang bersikap normal. Dan tentunya, di tahun ketiga ini, dengan ke”aneh”annya itu, dia mampu menjadi mood booster buat teman-temannya beserta bapak ibu guru, especially, me. Ketika teman-temannya kelelahan dalam belajar dan mengejar cita-cita, dia menjadi orang yang mampu membuat lelah menghilang. Terimakasih sudah menjadi salah satu mood booster yang ampuh. Jadi, begitulah dia, seorang murid yang mampu menjadi master of “mood booster”. 
Siapakah murid yang saya maksud?


Read More